Friday, August 7, 2009

Yuk, Berguru Keamanan Cyber di Jepang


Rabu, 22/07/2009 09:07 WIB, detikinet.com,
Jakarta - IDSIRTII,
Pemerintah Jepang, melalui Japan Computer Emergency & Response Team (Japan CERT), mengajak beberapa pemuda Indonesia untuk belajar keamanan cyber langsung di Laboratorium Malicious Ware (Malware) Jepang.

Penawaran ini digulirkan dalam bentuk kerjasama antar lembaga CERT Asia Pasific dan dunia, Computer Emergency & Response Team, yakni lembaga pengawas internet di setiap negara di dunia yang sudah mencapai 197 tim di 45 negara, termasuk Indonesia yang diwakili oleh ID-SIRTII.

IGN Mantra, Analis Senior Keamanan Jaringan dan Pemantau Trafik Internet ID-SIRTII mengatakan, latar belakang ajakan Jepang tersebut lantaran semakin meningkatnya jumlah pengguna internet di Indonesia--yang telah mencapai 25 juta pengguna di akhir 2008, serta diiringi melonjaknya jumlah serangan kepada infrastruktur internet Indonesia dengan rata-rata satu juta serangan per hari, baik lokal maupun global.

"Tawaran ini berbentuk belajar pertahanan cyber di Malware Lab. Seperti kita ketahui hacker yang mengirimkan Malware ke seluruh server internet di dunia ini, berharap program jahat tersebut dapat dikendalikannya jika berhasil masuk ke dalam system internet," jelasnya kepada detikINET, Rabu (22/7/2009).

Lalu apa saja yang bisa dipelajari di Lab. Malware Jepang tersebut? Pertama, terkait karakteristik malware itu sendiri yang memiliki beberapa kategori, low, medium dan high risk impact kepada sistem jaringan.

Kedua, bagaimana malware tersebut menyerang dan mengendalikan sistem yang sudah terinfeksi. "Nah, ini tergantung malware yang dianalisis. Biasanya akan diisolir bila ketahuan masuk ke dalam jaringan dan menghentikannya," tukas Mantra.

Ketiga, bagaimana cara bertahan terhadap serangan malware. Hal ini biasanya bersifat preventif, yakni memperkuat sistem jaringan dan selalu mencari dan menutup celah (vulnerability) yang digunakan hacker untuk masuk.

Jepang memberikan tawaran kepada dua pemuda Indonesia untuk belajar selama tiga sampai enam bulan di negeri Sakura, dengan harapan selesai belajar mereka menjadi tenaga ahli yang dibutuhkan Indonesia untuk semakin memperkuat pertahanan cybernya.

"Karena kesempatan hanya diberikan kepada dua orang dan animo mengikuti pendidikan itu begitu besar, maka seleksi tetap dilakukan kepada para kandidat dan dilakukan langsung oleh pihak Jepang," Mantra menandaskan.

No comments: